JSIT Karanganyar - Adzan Maghrib telah berkumandang, masih terlihat Hasan dan Hasna yang masih asyik menikmati acara kesukaannya. Hasan dan Hasna adalah dua orang anak yang berusia 8 dan 10 tahun. Terdengar suara dari arah belakang yang sedang menuju ke ruang tengah, di mana kedua anak tadi menonton TV, "Hasan, Hasna, sudah adzan lho, ko masih duduk manis di sini. Tidak ikut berjamaah di mushola kah?"
"Iya bunda!", jawaban singkat dan serempak dari Hasan dan Hasna kepada sang bunda. Keduanya lalu beranjak mematikan TV dan mengambil air wudhu. Kemudian, bertiga berjalan menuju mushola untuk sholat berjamaah. Sepulang dari mushola, sang bunda mengajak bicara Hasan dan Hasna.
"Hasan, Hasna, kalian sudah mulai dewasa. Sudah duduk di kelas 3 dan 5 Madrasah Ibtidaiyah (MI). Masa iya sih, setiap adzan Maghrib selalu menunggu aba-aba dari bunda dulu baru mematikan TV dan mengambil air wudhu."
"Iya bunda, kami minta maaf!", jawab Hasna sekaligus mewakili Hasan.
"Hmm... Padahal beberapa waktu lalu kalian sudah mulai terbiasa inisiatif sendiri, segera mematikan TV ketika adzan berkumandang. Tapi kenapa, sekarang mengulangi lagi? Apa Hasan dan Hasna sudah lupa pesan Ayah?"
Hasan dan Hasna masih tertunduk dalam, mendengarkan bunda yang sedang berbicara. Yang memang kali ini nada bicaranya agak tinggi, sedikit menahan emosi.
Sang bundapun melanjutkan bicaranya, "Ayahkan sudah pernah bilang, agar kita selalu mengusahakan sholat di awal waktu dan berjamaah. Tanpa perintah, tanpa teriakan. Karena Allaah sangat menyukai hambaNya yang menjaga waktu sholatnya. Untuk itu sayang, ...", sambil mengusap kepala Hasan dan Hasna melanjutkan, "... Ayah dan bunda ingin sekali membiasakan kebiasaan itu mulai Hasan dan Hasna sebelum baligh. Agar nanti setelah dewasa, Hasan dan Hasna menjadi hamba yang taat."
"Iya bunda, Hasan dan Hasna berjanji akan memperbaiki kesalahan kami."
Dengan tatapan lembutnya, sang bundapun melempar semyum kepada kedua buah hatinya. "Beneran lho ya! Bunda hanya ingin Hasan dan Hasna benar-benar menyadari kesalahan itu, lalu memperbaikinya bukan sekedar berjanji. Tidak seperti kemarin-kemarin, yang sekedar minta maaf namun masih mengulangi kesalahan lagi."
Sekilas ilustrasi singkat di atas, kadang kita jumpai dalam keseharian kita. Atau mungkin saja kita sendiri yang sedang mengalami permasalahan tersebut. Gampang-gampang susah menanamkan kebiasaan positive meskipun dimulai sejak usia dini. Begitu banyak tantangan, dari kita sendiri sebagai orang tua, dari lingkungan, dan dari TV. Apalagi saat ini, beragam program acara yang disuguhkan oleh berbagai saluran chanel TV dan dikemas begitu cermat. Memasukkan acara yang menarik minat anak-anak disela waktu sholat Maghrib dan Isya'. Kita sebagai orangtua dan calon orangtua, sudah seharusnya lebih proaktif dani konsisten dalam mendidik dan mengawasi tumbuh kembang sang buah hati. Lantas bagaimana caranya agar kita bisa membangun pondasi kesadaran diri pada anak, terkait ilustrasi cerita di atas? Berikut dipaparkan beberapa tahapu sebagai solusinya, yuk kita simak:
"Iya bunda!", jawaban singkat dan serempak dari Hasan dan Hasna kepada sang bunda. Keduanya lalu beranjak mematikan TV dan mengambil air wudhu. Kemudian, bertiga berjalan menuju mushola untuk sholat berjamaah. Sepulang dari mushola, sang bunda mengajak bicara Hasan dan Hasna.
"Hasan, Hasna, kalian sudah mulai dewasa. Sudah duduk di kelas 3 dan 5 Madrasah Ibtidaiyah (MI). Masa iya sih, setiap adzan Maghrib selalu menunggu aba-aba dari bunda dulu baru mematikan TV dan mengambil air wudhu."
"Iya bunda, kami minta maaf!", jawab Hasna sekaligus mewakili Hasan.
"Hmm... Padahal beberapa waktu lalu kalian sudah mulai terbiasa inisiatif sendiri, segera mematikan TV ketika adzan berkumandang. Tapi kenapa, sekarang mengulangi lagi? Apa Hasan dan Hasna sudah lupa pesan Ayah?"
Hasan dan Hasna masih tertunduk dalam, mendengarkan bunda yang sedang berbicara. Yang memang kali ini nada bicaranya agak tinggi, sedikit menahan emosi.
Sang bundapun melanjutkan bicaranya, "Ayahkan sudah pernah bilang, agar kita selalu mengusahakan sholat di awal waktu dan berjamaah. Tanpa perintah, tanpa teriakan. Karena Allaah sangat menyukai hambaNya yang menjaga waktu sholatnya. Untuk itu sayang, ...", sambil mengusap kepala Hasan dan Hasna melanjutkan, "... Ayah dan bunda ingin sekali membiasakan kebiasaan itu mulai Hasan dan Hasna sebelum baligh. Agar nanti setelah dewasa, Hasan dan Hasna menjadi hamba yang taat."
"Iya bunda, Hasan dan Hasna berjanji akan memperbaiki kesalahan kami."
Dengan tatapan lembutnya, sang bundapun melempar semyum kepada kedua buah hatinya. "Beneran lho ya! Bunda hanya ingin Hasan dan Hasna benar-benar menyadari kesalahan itu, lalu memperbaikinya bukan sekedar berjanji. Tidak seperti kemarin-kemarin, yang sekedar minta maaf namun masih mengulangi kesalahan lagi."
Sekilas ilustrasi singkat di atas, kadang kita jumpai dalam keseharian kita. Atau mungkin saja kita sendiri yang sedang mengalami permasalahan tersebut. Gampang-gampang susah menanamkan kebiasaan positive meskipun dimulai sejak usia dini. Begitu banyak tantangan, dari kita sendiri sebagai orang tua, dari lingkungan, dan dari TV. Apalagi saat ini, beragam program acara yang disuguhkan oleh berbagai saluran chanel TV dan dikemas begitu cermat. Memasukkan acara yang menarik minat anak-anak disela waktu sholat Maghrib dan Isya'. Kita sebagai orangtua dan calon orangtua, sudah seharusnya lebih proaktif dani konsisten dalam mendidik dan mengawasi tumbuh kembang sang buah hati. Lantas bagaimana caranya agar kita bisa membangun pondasi kesadaran diri pada anak, terkait ilustrasi cerita di atas? Berikut dipaparkan beberapa tahapu sebagai solusinya, yuk kita simak:
Tahap pertama
Anak diajak diskusi tentang acara TV, apa manfaat dan keburukannya. Targetnya, anak bisa memilah mana acara yang bermanfaat dan mana yang banyak keburukannya.
Anak diajak diskusi tentang acara TV, apa manfaat dan keburukannya. Targetnya, anak bisa memilah mana acara yang bermanfaat dan mana yang banyak keburukannya.
Tahap kedua
Orangtua boleh mengungkapkan harapannya.
Contoh: "Sebenarnya ibu kurang suka jika adik nonton acara itu karena ... (Kita ungkapkan alasan kita sesederhana mungkin, agar sang anak mudah mengerti). Lalu biarkan sang anak memberikan tanggapannya.
Orangtua boleh mengungkapkan harapannya.
Contoh: "Sebenarnya ibu kurang suka jika adik nonton acara itu karena ... (Kita ungkapkan alasan kita sesederhana mungkin, agar sang anak mudah mengerti). Lalu biarkan sang anak memberikan tanggapannya.
Tahap ketiga
Setelah melalui tahap diskusi dan analisa bersama, kita bisa membuat kontrak atau perjanjian. Yang isinya mengenai acara atau program TV apa saja yang boleh ditonton, batas waktu menonton dan sebagainya.
Setelah melalui tahap diskusi dan analisa bersama, kita bisa membuat kontrak atau perjanjian. Yang isinya mengenai acara atau program TV apa saja yang boleh ditonton, batas waktu menonton dan sebagainya.
Tahap keempat
Jika sudah dibuat perjanjian tersebut, sudah seharusnya kita sebagai orangtua memberikan kepercayaan kepada sang buah hati. Dan kita tetap harus memantaunya, jika suatu saat sang anak sesekali melanggar perjanjian tersebut, sebisa mungkin kita hindari untuk menunjukkan kemarahan yang berlebih. Dikhawatirkan sang anak takut untuk berlaku jujur lagi. Bisa-bisa malah anak berbohong, ketika kita tidak sedang berada di rumah sang anak melanggar perjanjian namun tidak berani mengakuinya saat kita pulang.
Jika sudah dibuat perjanjian tersebut, sudah seharusnya kita sebagai orangtua memberikan kepercayaan kepada sang buah hati. Dan kita tetap harus memantaunya, jika suatu saat sang anak sesekali melanggar perjanjian tersebut, sebisa mungkin kita hindari untuk menunjukkan kemarahan yang berlebih. Dikhawatirkan sang anak takut untuk berlaku jujur lagi. Bisa-bisa malah anak berbohong, ketika kita tidak sedang berada di rumah sang anak melanggar perjanjian namun tidak berani mengakuinya saat kita pulang.
Tahap kelima
Alangkah lebih baiknya, jika disediakan kegiatan alternatif atau aktivitas pengganti sebagai pengisi waktu luang anak-anak. Sangat tidak solutif jika kita ingin anak-anak tidak menonton TV tetapi tidak ada aktivitas mengalihkan kebiasaan mereka. Maka bisa jadi akan terjadi kebosanan dan kejenuhan, yang berdampak pada jiwa dan psikologisnya mereka.
Terakhir
Jika sudah menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik, ajak si buah hati untuk menilai dampak positive dari meninggalkan TV dan tak lupa berikan pujian maupun hadiah atau rewards untuk mengapresiasi mereka. Dan hal yang harus diperhatikan orangtua, "Konsistensi dan Kontrol pihak orangtua sangat menentukan keberhasilan dalam hal ini.
Sekian, beberapa tahap yang bisa kita lakukan agar anak-anak kita terhindar dari "racun-racun" acara TV yang akan terus berkembang ini. Mudah-mudahan Allaah senantiasa memberikan kekuatan kepada kita, agar kita bisa mencetak generasi Rabbani yang akan menjadi pahlawan masa depan.
"Rabbij'alni muqimashshalaati wamindzurriyati, ya Rabbana wataqabbal du'aa..."
Wallahu a'lam bishshawab
Sumber: Ust. Lilik Prihyanto
by De Vys
Jika sudah menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik, ajak si buah hati untuk menilai dampak positive dari meninggalkan TV dan tak lupa berikan pujian maupun hadiah atau rewards untuk mengapresiasi mereka. Dan hal yang harus diperhatikan orangtua, "Konsistensi dan Kontrol pihak orangtua sangat menentukan keberhasilan dalam hal ini.
Sekian, beberapa tahap yang bisa kita lakukan agar anak-anak kita terhindar dari "racun-racun" acara TV yang akan terus berkembang ini. Mudah-mudahan Allaah senantiasa memberikan kekuatan kepada kita, agar kita bisa mencetak generasi Rabbani yang akan menjadi pahlawan masa depan.
"Rabbij'alni muqimashshalaati wamindzurriyati, ya Rabbana wataqabbal du'aa..."
Wallahu a'lam bishshawab
Sumber: Ust. Lilik Prihyanto
by De Vys


