Total Pageviews

Powered by Blogger.

Tentang Kami

JSIT adalah singkatan dari Jaringan Sekolah Islam Terpadu yang merupakan organisasi Sekolah Islam Terpadu di seluruh Indonesia. Melalui organisasi ini, Elemen Sekolah dan Guru Sekolah Islam Terpadu melakukan komunikasi dan koordinasi untuk senantiasa meningkatkan kualitas belajar mengajar demi untuk meningkatkan kemajuan pendidikan Bangsa dan Negara.

Popular Posts

Video Of Day

Kritik dan Saran

Name

Email *

Message *

[5] [Kegiatan] [slider-top-big] [Slider Top]
You are here: Home / Pendampingan Anak Dalam Belajar

Pendampingan Anak Dalam Belajar



Oleh Lilik Prihyanto,S.Pd
Ketua JSIT Daerah Karanganyar


Seringkali orangtua memiliki rasa khawatir yang berlebihan ketika anaknya bersikap santai bahkan acuh seakan tak mempersiapkan dirinya menhadapi ulangan atau ujian tengah/akhir semester, rasa gemas dan cemas tersebut bertambah tinggi ketika anak diperintah untuk belajar sepertinya ogah-ogahan; orang tua lebih stress dibanding anaknya. Dalam kondisi semacam ini jika orang tua salah mengambil langkah maka akan berakibat fatal, oleh karena itu kita sebagai orangtua harus lebih cermat dalam mengambil sikap, terkadang keinginan  orangtua memotivasi tetapi diterima anak orangtua menekan  selebihnya  dianggap memarahinya. Agar kita dalam membersamai anak kita dalam belajar sesuai dengan harapan  kita ada beberapa langkah praktis yang bisa kita lakukan:
Pertama kita harus berprasanggka baik terhadap anak-anak kita bahwa anak kita memiliki kenginan serta kemauan dalam belajar. Hilangkan segala prasangka buruk kita terhadap anak kita apapun kejadian yang pernah membayangi anak kita di masa lalu yang menurut peresepsi kita buruk hilangkanlah, semisal dulu anak ogah-ogahan belajar, suka ngambek dan sifat buruk yang lain harus segera kita hilangkan dari prasangka kita. Kita harus percaya diri bahwa kita bisa membangun semangat belajar anak, membuat dia mau dan mampu belajar dengan baik.
Kedua, meluangkan waktu khusus dengan penuh kosentrasi dalam membersamai  belajar anak kita. Waktu tersebut merupakan waktu yang disepakati oleh orangtua dan anak melalui musyawarah yang demokratis tanpa tekanan namun tetunnya harus diarahkan oleh orangtua dengan baik  sehingga mendapatkan waktu yang sama-sama enjoy dalam belajar dan cukup untuk belajar
Ketiga,meningkatkan kesadaran belajar anak. Dengan memberikan pengertian serta pemahahaman yang banyak terkait manfaat belajar melalui contoh-contoh konkrit bukan sesuatu yang abstrak( missal kisah orang sukses karena belajar tekun) hal ini akan memberikan gambaran nyata bahwa  orang yang rajin belajar akan memdapatkan manfaat yang besar, setelah mengetahui manfaatnya maka anak akan cinta, jika anak sudah cinta dengan belajar maka kesadaran belajar akan tumbuh dengan baik.
Keempat, membangun kepercayaan kita kepada anak. Contoh apabila kita terpaksa tidak dapat membersamai anak dalam waktu yang telah ditentukan kita boleh memberikan nasehat atau pesan nanti saat jam belajar harus belajar dengan baik, pesan dan arahan kita harus jelas ( belajarnya apa , referensi belajarnya apa dan bagaimana harus jelas). Kemudian saat waktu nya belajar anak kita kita chek melalui alat komunikasi telephon , hp atau yang sejenis dengan kalimat yang isisnya kita percaya bahwa anak kita belajar sungguh-sungguh di waktu belajar yang  telah kita tentukan , dengan cotoh kalimat sebagai berikut;” umi , abi percaya saat ini adik sama kakak sedang belajar dengan baik, belajarnya lancar tho?,tidak terganggu khan?”. Kalimat yang seperti ini jikalau anak kita belum belajar akan memotivasi anaksegera belajar . Ketika anak sudah  belajar maka anak akan lebih tersanjung dan belajarnya akan lebih sungguh-sungguh. Di saat kita sudah pulang dan anak kita masih dalam kondisi anak kita masih belajar kita harus memberi apresiasi  yang menyenangkan bagi anak-anak kita. Namun jika anak terlihat tidak dalam  kondisi belajar kalimat yang kita ungkapkan adalah kalimat yang mempercayai bahwa mereka sudah belajar contoh : ummi-abi sayang sama adik  kakak…tadi mesti sudah  belajar banyak. Dengan kalimat ini maka anak akan merasa terapresiasi jika dia sudah belajar, tapi kalau anak belum merasa belajar maka dia akan merasa bersalah dan kemudian dia akan belajar lebih sungguh-sungguh.
Kelima bersabar dalam membersamai anak belajar.
Jika anak merasa kesulitan belajar maka orang tua membantu anak dalam memahami materi dan melatih untuk berfikir bukan tergesa-gesa dalam belajar dan menjadikan anak manja sehingga anak sulit dalam menganalisis sebuah masalah atau materi. Atau sebaliknya orangtua tergesa gesa agar anaknya segera dapat menyelesaikan masalahnya, apalagi sampai orang tuanya marah-marah.
Keenam jika anak mengalami down (tidak mampu belajar) sebagai orang tua harus membangun rasa percaya dirinya dengan cara mengingatkan kembali dengan prestasi-prestasi anak waktu kecil, kemampuan-kemampuan di masa kecil, nanti ketika sudah terbangun anak harus kita beri apresiasi.
Ketujuh membangun/meningkatkan kedekatan secara emosi dan ruhiyah. Misal dengan cara menambah frekuensi sholat sunnah bersama, mengajak puasa sunnah bersama, menyimak bacaan Qur’annya, dll.
Kedelapan do’a. Keikhlasan dan kesungguhan do’a orang tua memberi sumbangan terbesar dalam kesuksesan ananda. Harapan yang disertai husnuzhon kepada ananda dan husnuzhon pada takdir Allah menjadi kekuatan besar menuju kesuksesan.
Kesembilan selalu tawakkal tetap mengiringi seluruh aktivitas kita. Dalam mendampingi belajar anak kita harus terus bertawakkal dalam segala langkah, karena usaha kita untuk anak adalah usaha yang baik dan semuanya tak luput doa kita kepada Allah SWT. Wallaahu a'lam.