Serunya Study Tour yang kami mulai dari tempat Wisata
Pantai Parangtritis, yang merupakan objek wisata yang cukup terkenal di Yogyakarta
selain objek pantai lainnya seperti Samas, Baron, Kukup, Krakal dan Glagah.
Parangtritis mempunyai keunikan pemandangan yang tidak terdapat pada objek
wisata lainnya yaitu selain ombak yang besar juga adanya gunung-gunung pasir di
sekitar pantai, yang biasa disebut gumuk.
Dilanjutkan ke tempat Bersejarah Museum Geologi yang didirikan pada tanggal 16 Mei 1928. Sejarah Berdirinya Museum Geologi Bandung sangat identik dengan keberadaan Belanda di zaman kolonialisme di Indonesia dan juga pengaruh dari dunia, yang mana pada saat itu para ahli geologi eropa tengah intensif melakukan banyak kegiatan penyelidikan geologi dan tambang di wilayah Nusantara yang dimulai sejak pertengahan abad ke-17. Pada saat negeri-negri di belahan dunia Eropa mengalami revolusi industri pada pertengahan abad ke-18, benua biru tersebut sangat memerlukan banyak sekali jenis dan bahan tambang yang akan digunakan sebagai bahan dasar industri mereka.
Melihat prospek yang sangat bagus tersebut, lantas
membuat Pemerintah Hindia Belanda sadar begitu pentingnya penguasaan bahan
galian di berada di wilayah Nusantara pada saat itu. Melalui proyek ini,
diharapkan perkembangan industri di Negeri Belanda dapat didukung dengan
keberadaanya. Tepat di tahun 1850, maka dibentuklah lembaga Dienst van
het Mijnwezen. Kelembagaan ini berganti nama jadi Dienst
van den Mijnbouw pada tahun 1922, yang bertugas melakukan penyelidikan geologi
serta sumberdaya mineral di seluruh wilayah kepulauan indonesia.
Dalam
Museum ini, tersimpan dan dikelola materi-materi geologi yang berlimpah,
seperti fosil, batuan, mineral. Kesemuanya itu dikumpulkan selama kerja
lapangan di Indonesia sejak 1850.
Setelah itu ke Objek Wisata Kawah
Putih yang merupakan hasil dari letusan Gunung Patuha pada abad ke 10 membuat banyak
orang beranggapan bahwa lokasi ini adalah kawasan angker karena setiap burung
yang terbang melewati kawasan tersebut akan mati. Karena kepercayaan tersebut,
tidak ada orang yang berani mendekati kawasan ini sampai akhirnya pada tahun
1837 ada seorang ahli bernama Dr. Franz Wilhelm Junghuhn yang memutuskan untuk
pergi ke puncak Gunung Patuha demi ilmu pengetahuan.
Dr.
Franz Wilhelm Junghuhn berhasil mencapai puncak Gunung Patuha dan dari sana ia
melihat ada sebuah danau berwarna putih dengan bau belerang yang menyegat.
Sejak itu, keberadaan Kawah Putih menjadi terkenal dan pada tahun 1987
pemerintah mulai mengembangkan Kawah Putih sebagai tempat wisata.
Perjalanan
selanjutnya mampir ke Cibaduyut yang terkenal dengan sentra kerajinan tangan
dan produksi sepatu super kompetitif berkualitas tingkat Dunia. Dan
itu menjadi akhir dari Tour kami. Dengan mengunjungi tempat tempat-tempat
tersebut dapat mengajarkan kepada anak-anak bahwa kita harus menjaga dan
melestarikan alam, adat, budaya yang ada di Indonesia.


