Isilah waktu pagimu dengan membaca Al Qur’an. Ingatlah bahwa
Al Qur’an nanti bisa memberi syafa’at bagi kita di hari yang penuh kesulitan
pada hari kiamat kelak. Seperti dalam Hadits diterangkan bahwa, yang artinya :
“Dari Abu Umamah Al Bahiliy, (beliau berkata), “Aku
mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah Al Qur’an
karena Al Qur’an akan datang pada hari kiamat nanti sebagai syafi’ (pemberi
syafa’at) bagi yang membacanya. Bacalah Az Zahrowain (dua surat cahaya) yaitu
surat Al Baqarah dan Ali Imran karena keduanya datang pada hari kiamat nanti
seperti dua awan atau seperti dua cahaya sinar matahari atau seperti dua ekor
burung yang membentangkan sayapnya (bersambung satu dengan yang lainnya),
keduanya akan menjadi pembela bagi yang rajin membaca dua surat tersebut.
Bacalah pula surat Al Baqarah. Mengambil surat tersebut adalah suatu keberkahan
dan meninggalkannya akan mendapat penyesalan. Para tukang sihir tidak mungkin
menghafalnya.” (HR. Muslim No. 1910).
Selanjutnya bagi yang memiliki hafalan Al Qur’an juga dapat
mengisi waktu paginya dengan mengulangi hafalan karena waktu pagi adalah waktu
terbaik untuk menghafal dibanding dengan waktu siang yang penuh dengan
kesibukan. Di antara keutamaan menghafal Al Qur’an terdapat dalam hadits
berikut :
“Dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) Al Qur’an
nanti : ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia
mentartilnya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca
(hafal).”
(HR. Abu Daud no. 1464 dan Tirmidzi no. 2914. Syaikh Al
Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 2240 mengatakan bahwa hadits ini
shohih). Yang dimaksudkan dengan ‘membaca’ dalam hadits ini adalah menghafalkan
Al Qur’an. Perhatikanlah perkataan Syaikh Al Albani berikut dalam As Silsilah
Ash Shohihah No. 2440 :
“Ketahuilah bahwa yang dimaksudkan dengan Shohibul Qur’an (orang
yang membaca Al Qur’an) di sini adalah orang yang menghafalkannya dari hati
sanubari. Sebagaimana hal ini ditafsirkan berdasarkan sabda beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam yang lain, “Suatu kaum akan dipimpin oleh orang yang paling
menghafal Kitabullah (Al Qur’an).” Kedudukan yang bertingkat-tingkat di surga
nanti tergantung dari banyaknya hafalan seseorang di dunia dan bukan tergantung
pada banyak bacaannya saat ini, sebagaimana hal ini banyak disalahpahami banyak
orang. Inilah keutamaan yang nampak bagi seorang yang menghafalkan Al Qur’an,
namun dengan syarat hal ini dilakukan untuk mengharap ridho Allah semata dan
bukan untuk mengharapkan dunia ini.
Seperti yang disampaikan oleh Al Faqih Syaikh Muhammad bin
Sholih Al Utsaimin yang selalu melakukan kebiasaan menghafal Al Qur’an di pagi
hari sehingga bisa menguatkan hafalannya. Beliau rahimahullah mengatakan :
“Cara yang paling bagus untuk menghafalkan Al Qur’an menurutku adalah jika seseorang pada suatu
hari menghafalkan beberapa ayat maka hendaklah dia mengulanginya pada keesokan
paginya. Ini lebih akan banyak menolongnya untuk menguasai apa yang telah dia
hafalkan di hari sebelumnya. Ini juga adalah kebiasaan yang biasa saya lakukan
dan menghasilkan hafalan yang bagus.” (Kitabul ‘Ilmi, hal. 105, Darul Itqon Al
Iskandariyah).


